Senin, 09 Desember 2013

Anak Usaha Indosat Pasarkan Layanan Reseller Web Hosting

Anak Usaha Indosat Pasarkan Layanan Reseller Web Hosting


Anak Usaha Indosat Pasarkan Layanan Reseller Web Hosting

Posted: 09 Dec 2013 10:16 AM PST

Good Week for ...

Good Week for..
PT Bank Nasional Nobu Tbk (NOBU) memproyeksikan pertumbuhan kredit hingga 66,66% menjadi Rp 2 triliun pada tahun depan dibandingkan estimasi kredit sepanjang tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun. Menurut direksi bank, tingginya target pertumbuhan kredit diperlukan untuk mengejar ketertinggalan perseroan dari perbankan besar. Perusahaan mengalami pertumbuhan kredit yang signifikan sejak menjadi perusahaan publik melalui  initial public offering (IPO) pada awal tahun ini. Hingga November 2013, kredit perseroan tumbuh sebesar 256% menjadi Rp 868,87 miliar dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 243,74 miliar.

PT Modernland Realty Tbk (MDLN), emiten properti, mencatat penerbitan obligasi terbesar dari emiten properti lain, yakni Rp 3,36 triliun hingga kuartal III 2013. Emiten lainnya, yakni PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Intiland Development Tbk (DILD), dan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menerbitkan obligasi senilai Rp 450 miliar-Rp 1,2 triliun.
Obligasi Modernland merupakan obligasi valuta asing senilai US$ 300 juta. Obligasi ini bertenor lima tahun dengan tingkat bunga 10%. Tujuan penerbitan obligasi ini adalah untuk membiayai akuisisi 51% saham PT Mitra Sindo Sukses dan PT Mitra Sindo Makmur. Dengan akuisisi ini, perseroan menjadi pemilik kedua perusahaan tersebut.

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), emiten ritel handset, menargetkan membangun gerai ritel baru sebanyak 120 gerai pada 2014. Target tersebut lebih tinggi dari pembangunan gerai ritel tahun ini yang mencapai 105 gerai.
Perseroan belum dapat menyebutkan nilai investasi untuk ekspansi 120 gerai  baru pada tahun depan. Perseroan juga belum dapat merinci kategori dari 120 gerai tersebut.
Berdasarkan kinerja di kuartal III 2013, jumlah gerai ritel perseroan mencapai 445 gerai. Gerai ini termasuk gerai milik anak usaha, PT Erafone Artha Retailindo, dan iBox, gerai khusus produk-produk Apple Inc.

PT Intan Baruprana Finance, anak usaha PT Intraco Penta Tbk (INTA) berencana menerbitkan MTN sebesar Rp 300 miliar. Perseroan mendapatkan peringkat idBBB+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) untuk MTN yang akan diterbitkan. Meski perseroan terkena dampak penurunan harga batu bara,  bisnisnya masih tetap terjaga. Peringkat Intan Baruprana tersebut mencerminkan posisi bisnis yang kuat di captive market-nya dengan profil kapitalisasi yang moderat. Intan Baruprana adalah perusahaan pembiayaan alat berat, khususnya yang didistribusikan oleh PT Intraco Penta Tbk (INTA).

Crown  International Holdings Group, pengembang properti di Australia, mulai mengembangkan atau ekpansi bisnis ke Indonesia pada 2014. Untuk itu, perseroan berencana k mengeluarkan investasi US$ 20 juta-US$ 50 juta. Tahun depan akan menjadi awal bisnis properti perseroan di Indonesia. Sebelumnya perseroan hanya fokus  di pasar Australia. Konsep pengembangan high rise residensial seperti apartemen yang diterapkan di Indonesia  memiliki kualitas yang sama dengan yang dikembangkan di Australia, yaitu apartemen kualitas premium. Saat ini perseroan tengah mencari partner lokal untuk merealisasikan rencana tersebut.

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), emiten penyiaran anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), menganggarkan belanja modal atau (capital expenditure/capex) Rp 200 miliar pada tahun depan naik 100% dibanding estimasi tahun ini.  Sebagian besar capex itu akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur transmisi.  Kenaikan signifikan capex ini disebabkan perseroan ingin melakukan ekspansi jaringan pada  empat hingga lima kota besar lain di Indonesia, selain 10 kota besar yang sudah ada. Selain ekspansi tersebut, perseroan juga melakukan perbaikan transmisi jaringan di kota-kota existing.

Bad Week for ...

Bad Week for..
PT Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC), emiten distributor farmasi, per Oktober 2013 mencatat kenaikan beban operasional sebesar 10,8% menjadi Rp 75,25 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 97,92 miliar. Kenaikan tersebut sebagai akibat peningkatan sejumlah unsur biaya operasional.
Kebijakan tersebut menjadikan perseroan menaikkan upah buruh sebesar 10%-11%.

Peningkatan beban operasional per Oktober tahun ini juga diakibatkan kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada pertengahan tahun ini.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), belum memiliki rencana untuk menambah modal anak usahanya, yakni PT  BRI Agroniaga Tbk (AGRO) dan PT Bank BRI Syariah. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) BRI Agro dan BRI Syariah masing-masing mencapai 26,39% dan 14,66%. Total modal inti BRI Agro mencapai Rp 824 miliar per September 2013 atau tumbuh 157,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini didorong oleh tambahan modal dari hasil rights issue senilai Rp 449,98 miliar pada Juni lalu.

PT Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 (Bumida), anak usaha Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, memproyeksi kenaikan pendapatan premi pada tahun depan sekitar 5% hingga 10% dari estimasi tahun ini Rp 638 miliar. Proyeksi pendapatan premi pada tahun depan lebih rendah jika dibandingkan tahun ini di atas 10%. Minimnya proyeksi pendapatan premi tersebut karena tahun depan merupakan tahun politik. Setiap pemilihan umumpendapatan premi perusahaan berpotensi terhambat. Melemahnya daya beli masyarakat akibat tingginya inflasi juga menjadi penyebab turut melemahnya penjualan produk asuransi.
Hingga November 2013, Bumida membukukan pendapatan premi sebanyak Rp 600 miliar, tumbuh sekitar 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar