Rabu, 11 Desember 2013

Kemendag Tingkatkan Peluang Ekspor Produk Lifestyle

Kemendag Tingkatkan Peluang Ekspor Produk Lifestyle


Kemendag Tingkatkan Peluang Ekspor Produk Lifestyle

Posted: 11 Dec 2013 12:57 AM PST

Good Week for ...

Good Week for..
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), emiten media dan penyiaran, menargetkan PT Mediatama Anugrah Citra (Nexmedia), anak usaha di bisnis televisi berbayar (pay TV), untuk tumbuh 30%-50% tahun depan. Pertumbuhan tersebut seiring dengan pertumbuhan rata-rata industri pay TV. Pada tahun depan perseroan menargetkan pertumbuhan tinggi untuk Nexmedia sebab rata-rata pertumbuhan industri ini masih tinggi, antara 30%-50%. Pertumbuhan yang tinggi ini didorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga peluang pemirsa televisi free to air (FTA) beralih ke pay TV besar.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), emiten telekomunikasi, akan mengutamakan penguatan backbone infrastruktur jaringan anak usahanya di bidang seluler, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) pada 2014. Perseroan memperkirakan alokasi dana untuk itu sebesar Rp 15 triliun.
Sebelumnya, operator telekomunikasi ini menyatakan bahwa Telkomsel menjadi fokus utama pengembangan bisnisnya pada tahun depan. Telkom mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar 20%-25% dari target pendapatan pada 2014. Dari total capex, sekitar 70% akan digunakan Telkomsel.

PT Pertamina (Persero) yang menggandeng PTT Global Chemical Public Company Limited (PTTGC), perusahaan asal Thailand, menargetkan komplek industri petrokimia di Plaju, Sumatera Selatan bisa beroperasi komersial pada 2018. Pertamina akan menguasai 51% saham dari proyek patungan tersebut, sisanya 49% dikuasai PTTGC. Kolaborasi pembangunan komplek industri petrokimia di Plaju, Sumatera Selatan di lahan seluas 450 hektare itu dapat diwujudkan setelah tuntasnya studi kelayakan awal yang telah dilakukan secara ekstensif, dan menjadi bagian dari HoA yang telah ditandatangani pada April 2013.

PT Ciputra Development Tbk (CTRA), emiten properti, berencana menaikkan tarif sewa ruang riteln sebesar 10% akibat pelemahan  nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menembus level Rp 12 ribu. Tarif sewa mal perseroan saat ini Rp 150 ribu-Rp 300 ribu per meter persegi per bulan.  Saat ini perseroan memiliki dan mengelola empat mal yang sudah beroperasi, yakni Ciputra Mall di Jakarta Barat, Ciputra Mall Semarang, Ciputra World Surabaya, dan Ciputra World di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Saat ini patokan kurs rupiah terhadap dolar untuk tarif sewa mal perseroan adalah Rp 7.000. Perseroan akan memberlakukan tarif sewa baru kepada penyewa (tenant) yang telah habis masa kontraknya. Sementara bagi tenant yang belum habis masa kontraknya, maka tarif sewanya sesuai dengan kontrak sewanya. Rata-rata tenant memiliki kontrak sewa  selama tiga hingga lima tahun.

 
PT BW Plantation Tbk (BWPT), emiten produsen minyak mentah sawit (crude palm oil/CPO), terindikasi melakukan transaksi crossing saham di pasar negosiasi pada perdagangan kemarin. Hal tersebut membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,4% ke level 4.275,67 poin.
Pada perdagangan saham Rabu, volume transaksi harian mencapai 5,85 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 6,30 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 143.352 kali. Volume dan nilai transaksi tersebut jauh lebih tinggi dari perdagangan sebelumnya yaitu sebesar 3,23 miliar lembar saham senilai Rp 3,97 triliun. Investor asing kembali mencatatkan beli bersih saham (net buy) sebesar Rp 53,54 miliar.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menargetkan pertumbuhan pengguna kartu kredit sebesar 30% pada tahun depan. Menurut pejabat bank, perseroan akan menggandeng sejumlah pusat perbelanjaan premium untuk menggenjot jumlah pengguna kartu kreditnya. Hingga November 2013 pengguna kartu kredit perseroan mencapai 600 ribu orang. Setidaknya, 50.000 dari jumlah tersebut merupakan nasabah prioritas yang memiliki simpanan minimal Rp 500 juta. Perseroan optimistis pengguna kartu nasabah prioritas yang memiliki kartu kredit platinum dapat bertambah hingga 30%.

Peningkatan pasar kendaraan, pembiayaan, dan komponen penunjang otomotif diperkirakan mendorong pertumbuhan laba bersih PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) pada tahun depan. Perseroan menargetkan laba bersih bisa mencapai Rp 675 miliar atau tumbuh 25% dari proyeksi laba bersih tahun ini Rp 540 miliar. Hingga kuartal III 2013, Mitra Pinasthika membukukan laba bersih sebesar Rp 410,8 miliar dan pendapatan Rp 10,3 triliun dengan kontribusi terbesar berasal dari penjualan motor sebesar 76%.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan volume penjualan batubara pada tahun depan naik 20% dibanding realisasi tahun ini yang diproyeksikan mencapai 19 juta-20 juta ton. Direksi perseroan menyatakan batubara Bukit Asam memiliki kualitas yang sangat bagus, tidak hanya dari segi nilai kalori, tetapi juga kandungan bahan pengotor seperti abu dan sulfur.
Beberapa negara tujuan ekspor batubara Bukit Asam seperti Taiwan, India, China, dan Jepang sangat menyadari pentingnya mendapatkan batubara dengan kandung pengotor yang rendah. Batubara di China memiliki kandungan abu yang tinggi bahakan di India mencapai 40%. Batubara Bukit Asam merupakan yang terbaik dengan kandungan sulfur sekitar 8%.

PT Verena Multi Finance Tbk (VRNA), multifinance skala menengah telah menerbitkan obligasi berkelanjutan I tahap II sebesar Rp 153 miliar. Menurut direksi, penerbitan obligasi ini untuk mendanai modal kerja perseroan untuk menyalurkan pembiayaan kendaraan. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, Verena Multi Finance menerbitkan obligasi tersebut dalam dua seri berjangka waktu tiga tahun dan empat tahun. Perseroan menerbitkan obligasi sebesar Rp 113 miliar berjangka waktu tiga tahun dengan kupon 11,84%.

Bad Week for ...

Bad Week for.
Margin EBITDA PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW), emiten kertas, hingga akhir tahun berpotensi tertekan seiring dengan pelemahan rupiah. Menurut direksi perseroan, margin EBITDA Fajar Surya diperkirakan turun 100 basis poin menjadi 15,0% pada kuartal IV 2013 dibandingkan dengan perolehan margin hingga kuartal III tahun ini sebesar 16,0%. Sekitar 50%
lebih pembelian bahan baku perseroan masih berasal dari impor. Saat ini bahan baku berkontribusi sebesar 70% terhadap total biaya produksi dan 10% dikontribusi dari biaya energi. Sebagian besar pembelian bahan baku perseroan yakni berupa kertas bekas masih didapat dari pasokan impor, terutama asal Singapura. Dengan begitu, pelemahan rupiah cukup berdampak bagi biaya kinerja serta biaya operasional perseroan.

PT Indo Straits Tbk (PTIS), emiten jasa kelautan dan pendukung logistik, memperkirakan pendapatan tahun ini sebesar US$ 37,66 juta, turun 16% dibanding 2012 sebesar US$ 44,93 juta. Penurunan tersebut karena tertekannya harga jual per unit untuk lini usaha jasa pendukung logistik kelautan, akibat melemahnya pasar batu bara dunia sejak kuaratl II 2013.  Meski pendapatan menurun, perseroan menargetkan marjin laba bersih naik 22%, dari 9% pada 2012 menjadi 11% pada 2013. Sementara laba bersih hanya diproyeksikan hanya turun 2%, dari US$ 4,083 juta pada 2012 menjadi US$ 4,002 pada 2013.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar