Senin, 30 September 2013

Sulitnya Menjual Merek Sendiri

Sulitnya Menjual Merek Sendiri


Sulitnya Menjual Merek Sendiri

Posted: 29 Sep 2013 05:51 PM PDT


BANDUNG, KOMPAS
- Pelaku usaha kreatif masih kesulitan menjual merek dagang sendiri akibat keterbatasan modal dan jaringan usaha. Padahal, kemampuan menjual merek dagang sendiri diyakini mampu memberikan keuntungan dan peluang usaha lebih besar.

"Saat ini, lebih dari 90 persen produksi gitar untuk pasar luar negeri, terutama Inggris. Gitar kami biasanya lantas diberi merek baru dan dijual lagi ke berbagai negara, seperti Korea dan Jepang. Beberapa merek gitar itu seperti Brunswick, Timberline, Faith, dan Babicz," kata Rochman, perwakilan bagian pemasaran PT Genta Trikarya, produsen gitar dari Bandung, Minggu (29/9/2013).

Genta Trikarya merupakan satu dari 129 peserta Pameran Produk Indonesia (PPI) yang digelar Kementerian Perindustrian di Bandung, 26-29 September 2013.

Rochman mengatakan, peluang itu sebenarnya bisa dikembangkan bila didukung modal yang kuat serta jaringan usaha lebih baik. Ia memperkirakan keuntungannya akan jauh lebih besar bila gitar langsung dijual kepada konsumen. Saat ini, gitar Genta dijual untuk pasar nasional dan distributor asing dengan harga berkisar Rp 625.000-Rp 5 juta per unit.

Rochman juga yakin bila keuntungan semakin tinggi akan memicu bertambahnya jumlah tenaga kerja. Saat ini, ia mempekerjakan 90 orang guna memenuhi permintaan 500 gitar per hari. Untuk satu unit gitar dibutuhkan 15-20 orang.

"Kami terkendala dengan modal dan jaringan untuk mengembangkan sayap usaha ini. Namun, bila ada niat dan usaha kami pasti bisa mewujudkannya," katanya.

Hanung Satria Nugraha, produsen alat-alat musik, menyatakan, setiap pengusaha apalagi yang produknya sudah dijual di pasar luar negeri harus selalu menjaga kualitas. Gitar yang dibuat di Bandung, misalnya, mampu dipasarkan ke berbagai kota di Eropa dan Amerika Serikat.

"Kuncinya, teruslah berinovasi agar produk kita bisa diterima pasar," ujarnya. Hanung mengakui, selain produk yang diberi merek, pihaknya juga menjual produk tanpa merek sehingga para penjual di Eropa yang memasang mereknya. Semua itu dilakukan dalam rangka penetrasi pasar agar produknya mencapai pasar luar negeri.

Antusiasme pengunjung PPI 2013 tinggi. Setiap hari PPI dikunjungi lebih dari 1.000 orang, dan pada penutupan Sabtu mencapai 2.000 orang. (CHE/DMU)

Editor : Erlangga Djumena

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar