Rabu, 12 Desember 2012

PELUANG BISNIS: Usaha penganan Ibu Anna, dari iseng sampai 1.000 boks per hari

PELUANG BISNIS: Usaha penganan Ibu Anna, dari iseng sampai 1.000 boks per hari


PELUANG BISNIS: Usaha penganan Ibu Anna, dari iseng sampai 1.000 boks per hari

Posted: 11 Dec 2012 06:45 AM PST

JAKARTA: Usia memang tidak menjadi hambatan bagi siapa saja untuk memulai usaha.  Hal ini juga berlaku bagi seorang ibu rumah tangga berusia 40-an tahun ini, yakni Endriana Rahcmawati. Dia mulai tertarik mengeksploitasi kemampuannya justru sejak awal tahun ini.
 
Padahal, menurut pengakuannya, sejak masih Kelas II SMP di Sulawesi Selatan, dia sudah menguasai berbagai ilmu memproduksi berbagai jenis kue-kue populer di masyarakat. Ketika dia berkonsentrasi memproduksi penganan itu di Jakarta, tidak membutuhkan waktu lama untuk meraih kesuksesan.
 
Selain itu, dari sisi waktu juga tidak menjadi hambatan bagi dia untuk meneruskan bakat kuliner makanan ringannya. Ketika berdomisili di Surabaya mengikuti suaminya, dia juga mempunyai waktu luang menghasilkan pendapatan.
 
"Namun, saat itu saya lebih memilih menjadi karyawati salah satu perbankan nasional di Surabaya," ungkap alumnus UII Yogyakarta tersebut.
 
Ketika usia terus merangkak dan kembali harus berpindah domisili ke ibu kota Jakarta mengikuti suaminya, di kota pusat pemerintahan Indonesia itulah Anna, panggilannya, terinspirasi kembali mengoptimalkan seluruh kemampuannya.

Usaha tersebut lalu dimulainya pada satu toko mungil di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Dari toko kecil nan mungil itulah produknya terus merayap ke perkantoran demi perkantoran di Jakarta, sehingga saat ini setiap hari harus mengemas sekitar 1.000 boks.

Selain menerima order, Anna juga melayani konsumen individu untuk keperluan keluarga maupun pesta. "Tetapi jangan samakan usaha saya ini dengan pemain skala besar yang telah puluhan tahun eksis," pinta Anna.

Dia memposisikan diri sebagai pelaku usaha pendatang baru. Dia mengilustrasikan sebagai manusia, maka usahanya saat ini baru belajar merangkak. Belum sampai pada tahap berdiri, sehingga masih perlu perjuangan untuk bisa berjalan.,

Untuk mempopulerkan bisnisnya, Anna memilih brand usahanya sesuai dengan produk yang dihasilkan, yakni Dekuweh.  Jumlah karyawannya juga belum terlalu besar, karena baru merekrut sejumlah delapan orang.

Meski demikian, Anna berjanji siap merekrut SDM pendukung apabila bisnisnya terus berkembang. Hingga saat ini variasi kue yang diproduksi Dekue mencapai 57 jenis, sehingga memudahkan konsumen menentukan pilihan.

Omzet yang diraih per hari juga dinilai Anna sangat lumayan bagi pelaku usaha pemula, yakni rata-rata sekitar Rp2 juta. Apakah produk Dkue tergolong renyah bagi setiap konsumen? Sulit menjawabnya, namun Anna mengemukakan sepertinya pas untuk lidah seluruh konsumen.

"Indikasinya sebenarnya sangat sederhana bagi saya. Sebab, samai saat ini belum ada konsumen yang melayangkan protes. Namun, ini merupakan kesimpulan saya secara pribadi. Bagaimana riilnya, penilaian tetap pada konsumen."

Dari 57 jenis penganan yang dihasilkan Dekuweh, paling favorit adalah soes, risoles mayones, klapertart, dan pastel. "Saya tidak pernah menyangka jika kegiatan saya ini akhirnya bisa berjalan sukses, karena sebenarnya hanya untuk mengisi kekosongan waktu," ungkap Anna.

Proses kepiawaian dia menghasilkan berbagai jenis kua yang digemari masyarakat, memang tidak terlepas dari hobinya melakukan eksprimen. Dari coba-coba itu akhirnya memberi hasil yang tidak terduga.

Oleh karena itu Anna mengatakan sangat bersyukur karena cita-cita akhirnya bisa terwujud, karena sejak kecil memang berkeinginan menjadi seorang ahli kuliner panganan. Meski sempat tertunda puluhan tahun, namun tidak ada penyesalan bagi dia.

Sebab, ketika berstatus mahasiswa, dia secara iseng sudah berani melayani permintaan konsumen yang mengenal dia secara pribadi. Padahal, kepiawaian dia menghasilkan setiap kue, dipelajari secara otodidak.

Rencana Anna ke depan terus mengembangkan pasar produksinya. Dengan catatan, katanya, apabila konsumen menerima setiap jenis penganan yang ditawarkan. "Apabila ada indikasi semacam itu, saya akan mengembangkan usaha ini."

Ditegaskan, konsep pengembangan usaha yang dipersiapkannya bukan hanya untuk meningkatkan kapasitas usaha. Lebih dari itu, untuk memberdayakan masyarakat, k hususnya kaum perempuan mulai dari usia sekolah dasar hingga ibu-ibu rumah tangga.

"Saya akan mengajarkan mereka bagaimana memulai satu usaha dari skala paling kecil hingga beranjak ke level lebih baik. Mereka juga harus diberi pemahaman mengenai pengelolaan usaha agar bisa menjadi wirausaha tulen," tutur Anna.

Berdasarkan pemahaman itu, maka mulai saat ini di sekitar rumahnya di kawasan Jakarta Selatan, Anna terus memberdayakan remaja dan ibu-ibu untuk bisa menghasilkan sesuatu berharga bagi kehidupan mereka ke depan.

Sesuai dengan kemampuannya, Anna tidak ingin membuang kesempatan atau peluang untuk menjadikan seseorang menjadi mandiri melalui kewirausahaan.  Dia sangat yakin setiap  insane memiliki jiwa entrepreneurships. "Dia akan berbinar apabila dikawal demean benar."

Meski saat ini masih mengandalkan satu kios atau dalam penggunaan kalimat Anna adalah kotak berukuran 2 x 4 meter, namun dia sangat optimistis mengembangkan usaha tersebut berlipat ganda sehingga kotak-kotak kios Dekuweh akan menghiasi setiap sudut ibu kota.

Mau tau lokasi usaha yang menjadi andalan Anna saat ini? Tidak lain berdiri di sudut SPBU Pertamina di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Ke depan, dia juga akan memilih lokasi yang tidak terlalu mewah untuk memasarkan produk Dekuweh-nya.

Dia memiliki rasa percaya tinggi untuk mengembangkan usaha skala mikro dan kecil tersebut menuju skala menengah. Dan dia bertekad akan meningkatkan kotak usaha 2 x 4 meter menjadi lebih berkotak-kotak. Jika perlu, tidak hanya di Jakarta, akan tetapi juga di luar Jakarta.

Dia sangat berkeinginan membuktikan bahwa memulai usaha tidak memiliki keterbatasan usia pada angka tertentu. "Ketika masih ada kemauan atau keinginan seseorang meraih keberhasilan, maka disana masih ada momentum untuk mewujudkan impian itu." (Bsi)
 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Gaza Blitz - Turmoil And Tragicomedy At The BBC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar